Kandungan Logam Berat pada Abu Erupsi Semeru
Greenlab Indonesia
Monday, 24 Nov 2025
Erupsi Gunung Semeru pada tahun 2025 kembali menegaskan bahwa aktivitas vulkanik di Jawa Timur tidak hanya berdampak pada kualitas udara, tetapi juga membawa perubahan signifikan pada lingkungan di sekitarnya. Selain abu vulkanik yang menyebar hingga ke permukiman, salah satu isu yang kembali mencuri perhatian adalah kandungan logam berat yang terbawa bersama material erupsi. Berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa abu Semeru memiliki komposisi mineral dan unsur logam yang perlu diwaspadai, terutama jika terakumulasi pada tanah, air, atau sistem pernapasan manusia. Dengan munculnya kembali aktivitas erupsi di tahun 2025, penting bagi masyarakat dan pemerintah untuk memahami kandungan abu ini berdasarkan data ilmiah terbaru agar penanganan lingkungan dapat dilakukan dengan lebih tepat.
Kandungan Logam Berat pada Abu Semeru Berdasarkan Penelitian
Penelitian oleh Setiawati et al. (2024) yang menganalisis abu erupsi Gunung Semeru menggunakan teknik X-Ray Fluorescence (XRF) menemukan bahwa abu Semeru tersusun oleh elemen utama seperti silika (Si), aluminium (Al), kalsium (Ca), dan besi (Fe), yang merupakan karakteristik umum gunung api bertipe andesitik–basaltik. Dalam sampel abu murni, konsentrasi silikon mencapai 17,52%, aluminium 5,79%, kalsium 8,60%, dan besi 7,75%. Penelitian yang sama juga mengidentifikasi adanya unsur jejak lain seperti mangan (Mn), kalium (K), natrium (Na), hingga kromium (Cr) dan nikel (Ni) dalam jumlah lebih kecil. Melalui analisis mineralogi (XRD dan SEM), abu Semeru diketahui juga mengandung mineral kuarsa (quartz), plagioklas, hornblende, dan piroksen mineral umum hasil fragmentasi batuan vulkanik.
Temuan ini menunjukkan bahwa abu Semeru bukan hanya material silikat biasa, tetapi membawa unsur logam yang dapat berpotensi masuk ke lingkungan melalui udara, tanah, dan air.
Bagaimana Logam Berat dari Abu Semeru Menyebar ke Lingkungan?
a. Penyebaran melalui udara
-
Partikel halus (PM₂.₅ dan PM₁₀) mudah terbawa angin dan masuk ke area permukiman.
-
Logam seperti Fe, Mn, dan Cr dapat melekat pada debu halus dan berpotensi terhirup.
b. Deposisi ke tanah dan lahan pertanian
-
Abu yang jatuh ke tanah akan melepaskan mineral dan logam seiring waktu.
-
Konsentrasi logam tertentu dapat meningkat terutama setelah hujan.
c. Masuk ke sistem air
-
Air hujan yang bersifat asam akibat gas vulkanik dapat melarutkan logam dari abu.
-
Aliran lahar membawa campuran abu + air + batuan halus yang kaya mineral hingga ke hilir sungai.
d. Interaksi dengan lahar dingin
-
Material lahar dapat memperluas distribusi logam berat hingga jauh dari sumber erupsi.
Risiko Lingkungan dari Kandungan Logam Abu Semeru
Keberadaan logam berat di abu Semeru tidak serta-merta berbahaya dalam jangka pendek, namun risiko meningkat bila terjadi akumulasi pada tanah, air, atau jaringan tanaman.
a. Risiko terhadap kualitas udara dan kesehatan
Logam seperti Fe, Mn, Cr, dan Ni yang terikat pada partikel halus dapat masuk ke sistem pernapasan. Walaupun konsentrasinya relatif rendah, paparan berulang pada wilayah yang sering menerima abu dapat menyebabkan iritasi paru, gangguan saluran napas, dan pada logam tertentu berpotensi toksik jika konsentrasinya meningkat.
b. Dampak terhadap tanah dan produktivitas pertanian
Abu vulkanik dapat menyuburkan tanah dalam jangka panjang, tetapi logam seperti Al, Fe, atau Mn dalam kadar tinggi dapat mempengaruhi pH tanah dan memengaruhi ketersediaan nutrisi bagi tanaman. Penelitian di kawasan terdampak erupsi besar menunjukkan bahwa logam berat dapat terakumulasi pada lapisan atas tanah jika tidak segera mengalami pelapukan atau tercuci oleh hujan.
c. Pencemaran air permukaan dan air sumur
Air hujan yang melarutkan abu sering meningkatkan kadar Al, Fe, dan Mn pada air sungai. Pada beberapa erupsi besar di Indonesia, penaikan kadar logam dalam air tercatat dapat terjadi dalam beberapa minggu setelah erupsi, terutama pada daerah yang dilewati lahar dingin.
Pentingnya Pemantauan Laboratorium Pasca Erupsi
Pemantauan kualitas lingkungan setelah erupsi Semeru menjadi sangat penting untuk memastikan bahwa logam tidak terakumulasi pada kadar berbahaya. Laboratorium lingkungan biasanya melakukan pengujian untuk parameter seperti Fe, Mn, Pb, Cr, Ni, Zn, serta kualitas air (pH, TSS, konduktivitas). Data tersebut membantu:
-
Menentukan tingkat keamanan air minum warga.
-
Mengevaluasi kondisi tanah pertanian.
-
Mengidentifikasi area berisiko tinggi.
-
Merancang langkah mitigasi seperti filtrasi air, manajemen limbah abu, atau rehabilitasi lahan.
Pemantauan berbasis laboratorium menjadi bagian penting dari mitigasi bencana berbasis data, agar dampak jangka panjang terhadap lingkungan dapat diminimalkan.